Ibadah Minggu GPPI Sang Sinar: “Merdeka dari Penindasan”
Suasana khidmat dan penuh kehangatan mewarnai peribadatan Minggu di Gereja Protestan Presbiteri Indonesia (GPPI) Sang Sinar, Denpasar. Ratusan jemaat memadati tiga sesi ibadah yang diselenggarakan sepanjang hari, yakni pada pukul 07.30 WITA, 10.00 WITA, serta pukul 18.00 WITA untuk merefleksikan makna kemerdekaan sejati dalam perspektif iman Kristiani.
Ibadah Minggu tersebut dipimpin langsung oleh Pdt. Leo Pattipeilohy, M.Th. Dalam penyampaian firman, beliau mengangkat tajuk utama “MERDEKA dari Penindasan” yang berpatokan pada kitab Hakim-Hakim 6:11-16. Pesan mendalam yang disampaikan menjadi pengingat penting bagi jemaat di tengah tantangan sosial, ekonomi, dan spiritual yang kian kompleks.
Mengikis Mentalitas Korban
Dalam khotbahnya, Pdt. Leo menekankan bahwa bentuk penindasan di era modern tidak hanya berwujud fisik, melainkan juga keterikatan mental, kecemasan, serta rasa ketidakmampuan yang kerap mengurung potensi seseorang. Mengutip kisah Gideon dalam naskah Hakim-Hakim, beliau memaparkan tiga langkah strategis untuk mewujudkan kemerdekaan sejati.
Langkah pertama, menurut Pdt. Leo, adalah membangun mentalitas orang merdeka (merujuk ayat 13 dan 15).
“Sering kali manusia terjebak dalam victim mentality atau merasa menjadi korban keadaan, persis seperti Gideon yang merasa kaumnya paling muda dan dirinya paling kecil. Namun, Allah memanggil kita untuk keluar dari pola pikir minor dan melihat diri kita sebagaimana Allah memandang kita,” tegas Pdt. Leo di hadapan jemaat.
Penyertaan dan Keyakinan
Langkah kedua yang digarisbawahi adalah melangkah bersama Allah (ayat 12 dan 16). Kemerdekaan sejati bukan berarti mengandalkan kekuatan diri sendiri, melainkan menyandarkan setiap keputusan pada penyertaan Tuhan.
“Tuhan menyertai engkau, pahlawan yang gagah berani. Janji penyertaan inilah yang menjadi fondasi keberanian kita melangkah,” lanjutnya.
Adapun pilar ketiga adalah bertindak dengan YAKIN (Hakim-Hakim 7:7, 20). Keberanian dan keyakinan merupakan wujud konkret dari iman yang aktif. Pdt. Leo mengingatkan bahwa kemenangan Gideon atas Bangsa Midian bukan karena jumlah pasukan yang besar, melainkan karena kepatuhan dan keyakinan yang utuh pada perintah Tuhan.
“Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari tekanan luar, melainkan keberanian internal untuk bertindak dengan keyakinan penuh bahwa Allah berjalan di depan kita,” ujar Pdt. Leo Pattipeilohy, M.Th.
Usai peribadatan, suasana hangat terlihat di pelataran dan tangga gereja. Pdt. Leo Pattipeilohy tampak menyapa dan bersalaman langsung dengan para jemaat yang hadir. Senyum dan keramahan melengkapi ibadah Minggu yang berlangsung penuh rasa kekeluargaan ini.